Wagub Sumut Surya Tekankan Industri Sawit Harus Ramah Lingkungan dan Berorientasi pada Kesejahteraan Rakyat

Dalam era di mana keberlanjutan menjadi fokus utama dalam berbagai sektor, industri kelapa sawit di Sumatera Utara menghadapi tantangan yang signifikan. Wagub Sumut, Surya, menegaskan bahwa sektor ini tidak hanya harus berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga harus mempertimbangkan dampak lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan ini menjadi sangat relevan mengingat peran penting industri sawit dalam perekonomian daerah.
Pentingnya Keseimbangan antara Ekonomi dan Lingkungan
Surya menyampaikan pandangannya saat membuka acara Socfindo Conference on Practical Application & Exhibition (Scopex) 2026 di Medan. Ia menekankan bahwa industri sawit harus bertransformasi menjadi lebih berkelanjutan, dengan mengintegrasikan aspek lingkungan dalam setiap langkah produksi. Hal ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab perusahaan untuk memastikan bahwa aktivitas mereka tidak merugikan alam.
Dalam sambutannya, ia menyoroti bahwa penguatan riset dan teknologi sangat penting untuk meningkatkan daya saing industri sawit. Riset yang efektif dan inovasi yang berkelanjutan akan membantu menciptakan praktik yang lebih baik dalam budidaya kelapa sawit, yang pada gilirannya dapat meningkatkan hasil panen tanpa harus membuka lahan baru.
Implementasi Riset dan Teknologi
Surya berpendapat bahwa hasil penelitian yang dilakukan di sektor perkebunan tidak seharusnya berhenti pada tataran teori. Sebaliknya, hasil tersebut harus dapat diterapkan secara langsung di lapangan. Penerapan teknologi mutakhir dalam pengelolaan perkebunan akan membantu petani dan pelaku usaha untuk meningkatkan produktivitas, menurunkan biaya produksi, serta menjaga keseimbangan lingkungan.
“Hasil riset harus bisa diimplementasikan secara nyata. Ini akan membantu meningkatkan produktivitas dan daya saing, sambil tetap menjaga keberlangsungan lingkungan hidup,” tegasnya.
Transformasi Sosial di Sekitar Perkebunan
Dalam kesempatan tersebut, Surya juga menceritakan pengalaman masa kecilnya yang tumbuh di lingkungan perkebunan kelapa sawit di Pulau Raja, Kabupaten Asahan. Ia membandingkan kondisi sosial masyarakat di masa lalu dengan saat ini. Menurutnya, perkembangan yang terjadi sangat signifikan, terutama dalam hal hubungan antara masyarakat dan perusahaan.
“Dulu, hubungan antara masyarakat dan perusahaan sangat terbatas oleh sekat sosial. Namun, saat ini, hubungan tersebut semakin harmonis dan terbuka,” ungkapnya. Surya menjelaskan bahwa masyarakat kini lebih diberdayakan dan memiliki akses yang lebih baik terhadap perusahaan yang beroperasi di wilayah mereka.
Pengalaman Pribadi dan Harapan untuk Masa Depan
Surya mengenang bagaimana pada masa kecilnya, mereka diajarkan untuk menghormati pohon kelapa sawit pertama yang ditanam. “Kami bahkan diharuskan untuk meminta izin jika ingin lewat di depannya. Saat itu, ada batasan sosial yang kuat, tetapi sekarang semua itu berubah menjadi lebih baik,” tambahnya.
Ia berharap agar perusahaan-perusahaan kelapa sawit terus berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sambil menjaga lingkungan. “Kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas utama bagi semua pemangku kepentingan,” tegas Surya.
Statistik dan Tantangan dalam Industri Sawit
Sementara itu, Ketua Panitia Scopex 2026, Indra Syahputra, memberikan informasi mengenai produksi kelapa sawit di Sumatera Utara, yang saat ini mencapai sekitar 2 juta ton per tahun. Ia mencatat bahwa produktivitas rata-rata perusahaan perkebunan mencapai 3,6 ton per hektare, sedangkan untuk petani, produktivitasnya berada di kisaran 2,5 ton per hektare.
Indra menekankan bahwa peningkatan produktivitas dapat dicapai tanpa harus membuka lahan baru. Beberapa strategi yang bisa diterapkan meliputi:
- Penggunaan bibit unggul
- Teknik penanaman yang tepat
- Pengelolaan perkebunan yang baik dan berkelanjutan
- Peningkatan keterampilan petani melalui pelatihan
- Penerapan teknologi terbaru dalam budidaya
“Untuk meningkatkan produksi kelapa sawit tanpa perlu menambah lahan, kita harus fokus pada penggunaan bibit yang tepat dan pengelolaan yang efektif,” tambah Indra.
Kolaborasi untuk Keberlanjutan
Acara pembukaan Scopex 2026 dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk Principal Director Socfindo Harold Williams, Bupati Serdang Bedagai Darma Wijaya, dan Wakil Bupati Labuhanbatu Utara Samsul Tanjung, serta lebih dari 500 peserta dari pelaku usaha, akademisi, dan inovator baik dari Indonesia maupun Malaysia. Ini menunjukkan komitmen bersama untuk membahas tantangan dan solusi dalam industri sawit yang ramah lingkungan.
Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat, diharapkan industri kelapa sawit di Sumatera Utara dapat terus berkembang dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dan kesejahteraan rakyat. Surya menekankan bahwa semua pihak memiliki peran penting dalam mewujudkan industri sawit yang lebih baik dan lebih bertanggung jawab untuk masa depan.





